• Ini teh yang bikin wanita panjang umur!

    Menurut penelitian terbaru, teh chamomile dapat membantu wanita untuk hidup lebih lama. Hal itu karena minuman herbal tersebut bisa menurunkan risiko kematian dini sampai 29 persen..

  • Ungkap 6 khasiat asam Jawa bagi kesehatan!

    Asam Jawa adalah buah yang memiliki berbagai kegunaan, baik untuk pengobatan atau pun kuliner. Nama ilmiah dari buah ini adalah Tamarindus indica. Tanaman ini diperkirakan sampai ke Asia sekitar 5.000 tahun yang lalu. Nah, berikut adalah enam khasiat asam Jawa bagi kesehatan tubuh

  • Tomat dan brokoli, duet maut pembunuh sel kanker!

    Beberapa penelitian mengungkap efek brokoli untuk mencegah kanker dan tumor. brokoli mengandung sulforaphane yang diketahui bisa melawan sel kanker namun tak merusak sel sehat di sekitarnya. Hal yang sama juga berlaku terhadap lycopene pada tomat.

Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sunday, 14 December 2014

Hal kecil


Jam alarm ku berbunyi tepat pukul 05.30, aku segera bangun lalu sholat subuh. Karena ini hari aku sekolah aku bergegas sarapan, mandi lalu segera berpamitan kepada ayah dan ibuku. Saat menuju ke sekolah, aku melihat ada poster perlombaan menyanyi.
“Sepertinya perlombaan ini sangat menarik dan mungkin aku bisa membantu ayah dan ibu mencari uang, karena hadiahnya juga lumayan besar”, kataku dalam hati. Setelah itu aku menuju ke sekolah.

Aku bertemu temanku saat di depan gerbang sekolah.
“Hay adi, tahu gak tadi aku lihat poster perlombaan menyanyi loh. aku mau kamu membantuku untuk latihan perlombaan, kamu mau gak?” kataku sambil memegang bahu adi.
“Mau saja, tapi untuk apa kamu ikut lomba menyanyi?”.
“Begini, aku mau membantu ayah dan ibu mencari uang karena akhir-akhir ini kondisi keuangan keluargaku sedikit berkurang, jadi aku mau membantu ayah dan ibu.”
“Wah, kamu memang anak yang baik ya, oke nanti sehabis sekolah kita latihan” kata adi sambil menunjukan jari jempolnya.

Wednesday, 10 December 2014

Pertemuan Yang Berarti



Pagi yang terasa biasa, masih tanpa ayam berkokok seperti suasana di desa, enggan rasanya aku bangun untuk mandi dan bersiap ke kantor, rasa ngantuk masih melanda karena semenjak kembali dari masjid tadi malam aku tak bisa memejamkan mata sampai fajar tiba, dan baru bisa terlelap setelah sholat shubuh.

Melihat Pak I’ing dan yang lainnya yang sudah bersiap akhirnya aku paksakan juga untuk ke kamar mandi dan bergegas memakai seragam biru hitam, seragam resmi kebangaan CV. Daya Perkasa Mandiri.

Setelah meeting pagi yang dipimpin oleh pak Citin salah satu menejer di kantor ini dan admin membacakan daftar pasangan kru di lapangan aku segera meninggalkan kantor bersama yang lain menuju warung si mbok yang ada di pinggir terminal sana.

Satu porsi nasi pecel, sop atau nasi semur, bakwan, dan teh hangat yang harganya hanya Rp.2.000,- ini lah yang membuat warung si mbok tak pernah sepi dari pembeli, ditambah satu keistimewaan lagi tentunya, yaitu “boleh ngutang” he he.

Kado Terakhir Untuk Ibu



Pagi itu begitu syahdu seiring dengan dendang burung berkicau di atas pohon. Semua orang di kota pagi itu memang terlihat sangat antusias berlalu lalang sekedar menyapa atau berjalan-jalan dengan kendaraan mereka masing-masing. jalan raya tampak sedikit basah karena guyuran hujan semalam yang seperti membabi buta. Itu akan sangat berbahaya bagi para pengendara mobil atau motor yang hendak berlalu lalang jika tidak berhati-hati. Beberapa murid sekolah tampak tertib menyeberang dari ujung jalan sembari diatur oleh petugas lalu lintas. Semua tampak semakin sibuk dan bergejolak ketika jam menunjukkan pukul setengah delapan kurang lima belas menit. Memang, pada jam-jam seperti itu, aktivitas memang tampak ramai dan bergelora karena sudah biasanya pada jam segitu para pelajar, mahasiswa maupun karyawan kantor bergegas untuk berangkat kerja. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi para penyedia layanan jasa angkot ataupun becak. Kedua jenis transportasi ini memang sangat digemari oleh masyarakat karena selain harganya yang murah, angkot dan becak ini sudah menjadi teman mereka sehari-hari. Yah, begitulah keadaan kota bandung diawal tahun seperti ini apalagi ini adalah awal tahun 2000 dimana sebagian besar orang menyebutnya dengan era millennium.

Buta Bukanlah Akhir



Namaku Rina. Umurku sembilan tahun kelas 4 SD. Aku sekolah di Girls International Junior High School, sekolah khusus perempuan.

“Bun, Rina berangkat ya!” Kataku.
“Hati hati.” Bunda menyahut sambil menyelesaikan mencuci piring terakhir.

Rina berangkat ke sekolah diantar ayah. Di jalan, ada sebuah truk besar. Pengendara truk itu melamun jadi tidak sengaja dia menabrak motor ayah.
“Tidak!” Kataku. Ayah selamat, tapi justru AKU yang tertimpa truk itu.

Aku menyadari pandanganku gelap. Ambulan datang. Ayah menghubungi bunda tentang keadaanku, lalu bunda menyusul ke RS Zahmutawakal.
Aku dicek keadaan disitu.

“Dok, bagaimana keadaan anak saya” tanya bunda.
“Anak anda mengalami kebutaan,” kata sang dokter agak prihatin sambil memegang sebuah alat kedokteran.
“Huhuhu” tangis bunda dan ayah.
“Apa, aku mengalami kebutaan?” Tanyaku. Aku berlari dengan sedih berdenyut denyut, melepaskan kaitan infus yang menyangkut ke taman rumah sakit. Aku tertubruk terus karena tidak bisa melihat jalan.

Bukan Sepatu Sekolah



Rasa dingin masih meliputi suasana pagi hari. Tetesan embun membasahi bunga-bunga yang berada tepat di samping rumahku. Rasanya enggan sekali untuk bangun. Ingin pada waktu pagi itu sebelum aku beranjak dari ranjang tempat tidurku, selimut yang sudah berada di bawah kakiku ku ambil dan ku betulkan, alias kembali menyelimuti tubuhku yang kedinginan. Tetapi mengingat hari itu bukanlah hari libur sekolah, dengan terpaksa aku beranjak dari tempat tidurku dan langsung ku ambil handuk yang tergantung di pintu kamarku. Setelah itu aku langsung pergi mandi.

Setelah beberapa menit di kamar mandi, akupun keluar dan menuju kamar untuk berpakaian dan bersiap diri untuk pergi ke sekolah. Tetapi, sesuatu terjadi di kamarku pada saat aku baru membuka pintu kamarku dan menatap jam dinding yang tergantung di tembok kamarku yang bercatkan warna biru. Aku spontan melihat arah jarum jam dindingku menunjukan angka 06.57. “hah…!!” kataku kaget sambil melototkan mata. “waduh gimana nih..? Mana belum pake baju dan lain-lain lagi” aku panik sendirian di kamar. Karena ibuku sedang ke pasar, aku jadi tidak ada yang membantu menyiapkan ini itu.

Paket Kurus Murah



Kenalin, nama gua tugu asmara, biasanya sih dipanggil gengen atau gendut. Udah lama gua pengen ngurusin badan gua, tapi alhasil berat badan gua, gak pernah mau turun. Asal kalian tau aja, gua orangnya gak terlalu tinggi. Tinggi gua sekitar 169 lah, tapi berat badan gua sekarang sudah 97 boos, hampir 1 kuintal, buseeettt..!!

Suatu hari gua ketemu ibu-ibu, dia bilang ke gua, “itu badan apa karung goni sih, besar banget”.
Gua sih gak marah, cuma jawab “ini kan meja pimpong bu”.
Terus ibu itu bilang, “kamu mau kurus gak..?”
“Ya iya lah lah bu, bosan tau”.
“Mudah dan murah kok, buat ngilangin lemak kamu, cuma seribu lima ratusan kok, lemak kamu bakal hilang seketika, Kamu punya duit gak..?” Dia bilang.
Terus gua bilang “ada buk, tapi gak mungkin lah cuma 1.500 bisa ngilangin lemak”
“Iya serius, sini duit kamu biar saya beliin”.
“Okee” jawabku

Pelajaran Mengarang



Pak Wanto memberi tugas kepada kami untuk mengarang dengan tema tamasya di Monas, Kebun binatang Raguna, Dufan, TMII, Lubang Buaya dan Sea World. Selama sepuluh menit aku tidak bisa menulis apa-apa. Meski tinggal di Jakarta, aku belum pernah pergi ke tempat-tempat tersebut. Biaya masuk kesana cukup mahal sedangkan orangtuaku penghasilannya pas-pasan.

Karena aku malu bertanya, aku terpaksa mengarangnya asal saja. Aku mulai menulis tentang Monumen Nasional yang merupakan tempat penyimpanan benda-benda kuno yang ada di indonesia dari zaman baheula sampai zaman reformasi ini. Di sana ada fosil binatang purba sampai kopiah Gus Dur yang dipakai saat menjadi presiden.

Dufan atau Dunia Fantasi adalah tempat sekolah para penyanyi. Setelah tamat sekolah di Akademi Fantasi dapat meneruskan di Dufan ini. Di sana para pengunjung dapat melihat cara bernyanyi yang baik. Sedangkan Taman Mini Indonesia Indah adalah tempat menyimpan segala sesuatu yang kecil-kecil di Indonesia, seperti bonsai dan ayam kate.

Surat Hitam Tanpa Arti



 Semua pandangan tertuju pada spidol yang berdecit-decit. Namun, tampaknya Vio sangat gelisah. Surat hitam baru saja jatuh di atas mejanya. Ia pun dengan curiga melirik ke kanan, kiri, dan belakang.
“Tidak ada wajah-wajah yang patut dicurigai.” Gumamnya lirih. Kemudian pandangannya kembali pada spidol dengan raut wajahnya yang masih penasaran terhadap surat hitam. Entah dari mana asal, untuk siapa, dan siapa pengirimnya. Tidak begitu jelas.

“Surat? Surat siapa?” tanyanya dalam hati.
Ia tidak berani menyentuh surat itu. Ia hanya menatap dengan penuh kecurigaan. Jantungnya berdebar-debar, keringatnya mulai mengalir, gelisah.

Ketika bel berbunyi, secepat kilat ia mengemas buku-bukunya ke dalam tas dan membiarkan surat itu berada di meja.

Bakso atau Rinso



Andi sedang bermain bola bersama teman-temannya di taman dekat tempat tinggalnya saat Ibunya memanggil.
“Andi, kemari nak. Ibu perlu bantuan kamu ni..” teriak Ibunya dari teras rumahnya yang tak jauh dari taman.
“Bentar ah Bu.. Nanggung ni mainnya..” sahut Andi sambil melempar bola yang digenggamnya, karena ia bertugas sebagai penjaga gawang.
“Nanggung-nanggung? Gigimu nanggung. Yakin ni nggak mau. Ntar nggak Ibu bikinin puding baru tau rasa..”
“Iya deh, iya. Andi bantuin.” potong Andi sebelum Ibunya selesai berbicara, kerena ia sangat suka dengan puding buatan Ibunya.

Andi pun memilih berhenti bermain bola dan bergegas menemui Ibunya yang membutuhkan bantuan dirinya.
“kenapa Bu..?” ucap Andi begitu sampai di teras rumahnya.
“Ibu mau nyuci, tapi deterjen Ibu habis. Kamu belikan rinso gih di warung Mak Inong. Ini uangnya 10 ribu, jangan lupa kembaliannya. Ntar kamu jajanin lagi kayak kemarin. Kalau kembaliannya berkurang, Ibu kurangin juga jatah puding kamu.” Jelas Ibunya panjang lebar.
Andi yang baru bersekolah di tingkat SD kelas tiga tersebut hanya menjawabnya dengan kata “iya” yang disertai dengan anggukan lugunya dengan ekspresi wajah cemberutnya. Ia berjalan pelan meninggalkan Ibunya di teras rumah.

Wednesday, 29 October 2014

Bukan Sepatu Sekolah



Rasa dingin masih meliputi suasana pagi hari. Tetesan embun membasahi bunga-bunga yang berada tepat di samping rumahku. Rasanya enggan sekali untuk bangun. Ingin pada waktu pagi itu sebelum aku beranjak dari ranjang tempat tidurku, selimut yang sudah berada di bawah kakiku ku ambil dan ku betulkan, alias kembali menyelimuti tubuhku yang kedinginan. Tetapi mengingat hari itu bukanlah hari libur sekolah, dengan terpaksa aku beranjak dari tempat tidurku dan langsung ku ambil handuk yang tergantung di pintu kamarku. Setelah itu aku langsung pergi mandi.

Setelah beberapa menit di kamar mandi, akupun keluar dan menuju kamar untuk berpakaian dan bersiap diri untuk pergi ke sekolah. Tetapi, sesuatu terjadi di kamarku pada saat aku baru membuka pintu kamarku dan menatap jam dinding yang tergantung di tembok kamarku yang bercatkan warna biru. Aku spontan melihat arah jarum jam dindingku menunjukan angka 06.57. “hah…!!” kataku kaget sambil melototkan mata. “waduh gimana nih..? Mana belum pake baju dan lain-lain lagi” aku panik sendirian di kamar. Karena ibuku sedang ke pasar, aku jadi tidak ada yang membantu menyiapkan ini itu.

Cinta Datang dan Pergi



Hari itu, adalah hari paling buruk yang dimiliki lala. Dia menyaksikan orang yang dia suka menembak sahabatnya sendiri. Dengan hati hancur dia pulang ke rumah, mengunci diri di kamar seharian. Dia berfikir, haruskah dia merelakan sahabat demi seorang laki laki? Atau dia harus tetap menahan rasa sakit itu dengan melihat sahabatnya mesra dengan laki laki yang dia cintai?

Akhirnya setelah 1 tahun berlalu, dia sudah tidak pernah lagi bertemu dengan rendy, lelaki yang pernah dia cintai sewaktu kelas 1 sma. Sekarang lala sudah bisa melupakan masa lalu nya dan dia memulai hidup baru dengan sahabat baru.

Sewaktu kelas 2 sma dia bertemu dengan robby. Setiap hari robby dan lala selalu beradu mulut sampai sampai satu kelas terheran heran dengan sikap mereka berdua apalagi dengan sahabat baru lala, cindy.

Kabut Putih Tahun Baru

27 Desember 2013
Tak terasa sudah mau tahun baru lagi, begitu cepat waktu berlalu.
29 Desember 2013
“Kamu yakin untuk mendaki juga? Cuaca akhir tahun ini buruk sekali.” Protes kakak cowokku yang bernama Chaz.
Tapi aku dan 4 temanku (Jazzy, Meggy, Selena dan Caitlin) tetap bersikeras dengan keputusan kami. “Rencana kami sudah matang Chaz, besok aku tetap pergi ke puncak dan camping semalam di sana menikmati pergantian tahun. Meskipun cuaca buruk.” ucapku sambil tersenyum.
Chaz menghela nafas “Aku cuma berpesan, jaga diri kalian baik-baik! Aku khawatir karena kalian 5 orang wanita.” cemas Chaz. “Haha, Sip Bos, so pasti” kataku sambil hormat
Lalu Chaz langsung mengacak-ngacak rambutku. Ya, itu sudah kebiasaan kakakku

First Love (Memori)



Kusandarkan lenganku pada kusen jendela. Mataku terus menatap hening pada kanvas hitam di hadapanku. Satu pendar cahaya bintang menyeretku kembali pada masa lalu, yang tak pernah aku lupakan. Masa lalu yang akan menjadi satu cerita indah dalam hidupku. Masa lalu seseorang yang pernah berarti dalam hidupku. Masa lalu yang menjadikanku seorang yang tak pernah mengenal cinta lagi, selain cintanya. Dan masa lalu itu terus membekas di ingatanku sampai kapanpun, sampai sisa hidupku.
Juli 2003/2004
Namaku Tia, umurku 12 tahun. Dan aku adalah siswa baru di SMP Permana. Sekolah favorit di dekat tempat tinggalku. Aku punya dua orang kakak laki-laki, namanya Samy dan Sandy, ia juga mantan siswa di sekolah tersebut, tapi Sandy masih bersekolah di Permana. Ia baru kelas tiga. Dulu saat di sekolah dasar, aku tak punya bayangan bisa masuk di sekolah bergengsi -walaupun tingkat kecamatan- itu. Kalau saja kakak-kakakku tidak menyarankan aku untuk masuk sekolah itu, aku mungkin akan jadi siswa di SMP lain. Dan dari situlah aku bertemu dengan seseorang. Seseorang yang akan mengenalkan aku tentang cinta. Seseoramg yang akan mengajari apa itu cinta. Dan seseorang yang akan memperlihatkan betapa besarnya kekuatan cinta.

CERPEN ROMANTIS : Hujan Penghantar Kerinduan



Malam ditemani hujan deras memilukan hati, di situ Randy terkulai di pojokan kamar menatap kosong jendela basah yang dihantam hujan. Sesekali guntur menyapa, raut mukanya pucat,

Lesu, lunglai tak bergairah. Hanya 2 buah lilin kecil dengan cahaya kuning redup yang saat itu menemaninya. Randy tengah sakit akibat seminggu ini dikejar dengan tugas skripsinya yang harus segera ia selesaikan, ia kurang tidur, sehingga warna coklat pudar tapak jelas di bawah mata mungil Randy. Kini ia tak berdaya, hanya bisa berkata juga mengedipkan kelopak mata sebagai tanda ia masih ada.

Tak terasa hujan begitu indah mengirimkan pesan kerinduan tentang kekasihnya, Syifa.

Jemari jemari lemah Randy tak sadar menari nari di atas keypad handphone silvernya, jemari itu menulis nomer hp kekasihnya, dengan tubuh yang gemetar kedinginan ia menunggu suara muncul dari hp nya.

“Syifa.. Syifa..” ia melafalkan dengan lidah begitu lemah disertai getaran tubuh ringkihnya, tapi apa mau dikata tak ada suara yang biasa ia dengar menyahutinya.

Thursday, 16 October 2014

CERPEN HUMOR : Jepang Oh Jepang

Jepang, kata yang pertama gue tau dari sebuah negara maju ini adalah Miy*bi :hammer bukan-bukan maksud gue itu Arigatou. Dulu gue waktu gue di Jepang gue sering denger orang yang ngomong Arigatou. Apalagi para turis asing sering ngomong arigatou. Mungkin kata ini adalah kata yang biasa bagi orang lain. Tapi tidak buat gue.

Beda lagi waktu gue lagi di Jerman. Emang gue udah mempersiapkan semuanya dari rumah. Mulai dari kolor, lipstick, Pakaian, dsb. Dan yang paling gue wanti-wanti dari rumah, gue udah belajar bahasa Jerman. Maksud gue belajar bahasa Jerman adalah karena di pikiran gue di jerman itu jarang ada orang Indonesia. Ya jadi gue harus belajar bahasa Jerman.

Gue udah ngebayangin dari awal, kalo gue gak bisa bahasa Jerman entar kalo gue kebelet pengen poop terus udah di ujungnya, gimana? Emang gue bisa cari WC umum terus nanya ke penjaganya “Ada yang kosong WCnya?” pake bahasa Indonesia, yang pasti penjaganya bakalan mupeng. Kalo gue pake bahasa Inggris, “Excuse me, Do some toilet free?” (pokoknya itulah maksudnya.) Mending kalo penjaganya ngerti bahasa Inggris. Kalo penjaganya enggak ngerti dan dia cuman lulusan MTs? bisa-bisa lele kuning gue bisa keluar waktu lagi percakapan sama penjaga WCnya.

CERPEN MOTIVASI : UNTUK BU DIAN


Hidup itu memang Luar Biasa. Segala peristiwa yang bahkan tak pernah aku bayangkan terjadi. Aku pernah membaca salah satu buku motivasi yang berjudul “The Secret” dalam buku itu dituliskan, bila kita ingin meraih Impian kita, maka kita harus memikirkannya dan menjadikannya fokus hidup kita. Pikiran positif akan menarik hal yang positif, begitulah prinsip yang selalu aku pegang teguh. Dan semua terasa seperti keajaiban dan menjadi nyata. Apa yang hanya ada dalam benakku, kini menjadi kenyataan yang tersaji tepat di depan pandangan ku. Contoh nyatanya, seperti yang terjadi padaku di hari ini.

Hari ini, aku akan mengikuti Lomba Pidato bahasa jawa. Memang aku tidak terlalu fasih dalam bahasa jawa, modal ku hanyalah tampil percaya diri dan semangat. Pagi hari ku awali dengan semangat. Lokasi lomba dengan rumahku tak begitu jauh, jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Entah kenapa, kali ini langkahku serasa sangat ringan, seperti gak ada beban, padahal aku mau lomba, Lomba dimulai jam 8 pagi, begitu sampai tempat, eh kok malah sepi. “Guruku mana ya?” tanya ku kebingungan. Aku malah jalan-jalan sendiri kayak orang hilang. Ya, sudah aku masuk saja sendiri, sampai di dalam aku masih kebingungan. Eh… Akhirnya ketemu juga, aku ketemu Bu Dian guru pendampingku. Bu Dian bilang ke aku, kalau Lomba Pidato langsung daftar ulang ke lantai 2. Tapi Bu Dian gak bisa nemenin aku, soalnya Bu Dian panitia lomba. Hahhh, kalau aku sih maklum aja, Bu Dian kan orang sibuk. Ya, sudah lomba sendiri aja.

Wednesday, 15 October 2014

CERPEN ISPIRATIF : Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)


Kini setelah mendapat pesetujuan dari keluarga. Ryan sekarang tercatat sebagai salah satu mahasiswa di universitas negeri terbaik di Jakarta Fakultas Hukum. Sejak dulu Ryan memang sudah memimpikan untuk bisa menyandang gelar sarjana hukum, sama seperti sahabatnya Arif yang sekarang juga mengambil jurusan hukum. Bedanya adalah Arif berada di bawah naungan salah satu Universitas terbaik di Inggris. Meskipun sekarang mereka terpisah oleh jarak yang cukup jauh, namun intensitas komunikasi mereka tetap berjalan terus. Maklumlah, kedua orang ini memang sudah begitu dekat sejak kecil. Namun kali ini mereka harus terpisah sejenak untuk mimpi mereka masing-masing.

Setiap hari, Ryan menjalani rutinitas perkuliahan yang begitu padat. Panas Ibukota yang selalu sama dan tak bisa diajak kompromi itu, serta macetnya jalan tak membuat Ryan untuk mengeluh mengendarai sepeda motornya menuju kampus. Kali ini dia berangkat berboncengan dengan salah satu kerabat kelasnya Adit. Anak muda seperti Ryan dan Adit memang sedang asyik-asyiknya kuliah. Apalagi Ryan terbilang aktif mengikuti kegiatan dan banyak mengikuti organisasi di kampus. Namun Ryan begitu senang, karena memang untuk itulah kita hidup, untuk berkarya. Kita masih muda kawan.

CERPEN ISPIRATIF : Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)

                    Malam begitu gelap. Tak ada pancaran sinar matahari yang menyinari bumi lagi, tapi jangan khawatir itu hanya terjadi malam hari saja. Bintang-bintang di langit sudah cukup membantu menerangi bumi di tambah cahaya lampu di tiap perempatan jalan ibukota.
Jalanan cukup sepi, mungkin karena sudah larut malam. Tak terlalu banyak hiruk pikuk suara kendaraan yang mengganggu. Hanya ada beberapa pejalan kaki saja. Langkah Ryan begitu pelan, entah apa yang ada di benaknya sekarang. Terus berjalan kaki tanpa ada arah tujuan sedari tadi. Hanya di temani alunan musik favoritnya saja.
“Ryan, Ryan, tunggu!” suara dari belakang tampak memanggil.
Ryan tak menoleh sedikitpun. Mungkin pengaruh terlalu asyik mendengar alunan musik itu.
“Ryan, Ryan, tunggu!” suara itu kembali terulang namun lebih keras lagi.
Kali ini Ryan akhirnya menoleh. Melihat dari kejauhan sosok yang memanggilnya. Kulit sawo matang, tinggi dan terlihat manis mengenakan kaos oblong itu ternyata teman sewaktu di SMA, namanya Arif.
“Hey rif, kenapa?”
“Mau kemana? Dari tadi siang ibumu menelfon, dikiranya kamu main ke rumah” kata Arif dengan gaya cemas.
“Oh, itu. Iya aku yang bilang tadi mau ke rumah kamu, tapi itu cuman akal-akalan saja biar ibu tidak cemas” Ryan menjawab dengan santai.
“Kenapa? Ada masalah apalagi?” tanya Arif penasaran.
Tak ada respon dari Ryan, dia hanya terus berjalan melangkahkan kakinya entah kemana, tak ada tujuan sama sekali. Arif hanya terus mengikuti meski kadang terlihat geram melihat tingkah sahabatnya itu.

CERPEN ISPIRATIF : Padamu Wanita Indonesia

Hari ini aku dan kawanku Fadyta berkunjung ke salah satu desa di Kabupatenku, Kabupaten Banjarawi. Disana kami telah merencanakan apa yang akan kami lakukan sesuai perintah Pak Fajar Arif, wali kelasku. Pak Fajar memerintahkan aku dan teman-teman sekelasku untuk berkunjung ke Desa Kartini di Kabupaten Banjarawi. Disana, kami ditugaskan untuk mewawancarai seseorang yang kami anggap sebagai wanita yang istimewa di desa itu. Maklum, kata Pak Fajar disana banyak wanita yang istimewa yang tegar dan sangat bijaksana.

Oh iya, perkenalkan, namaku Akyas Az-Zahra, panggil saja aku Zahra atau Kyas. Setelah bertanya kepada beberapa orang di desa itu, aku dan Dyta akhirnya menemukan seorang wanita yang menurut warga desa beliau sangat ramah dan bijaksana. Langsung saja aku dan Dyta menghampiri rumah yang sudah disebutkan ciri-cirinya oleh seorang warga. Tok… tok… tok… Suara ketukan pintu membuat wanita 43 tahun yang tengah membaca koran sontak meninggalkan bacaanya dan langsung membuka pintu untuk kami. Setelah pintu dibuka dan kami dipersilahkan masuk oleh ibu Sartika, atau panggil saja beliau ibu Tika, kami langsung memperkenalkan diri dan memberi tahu maksud kedatangan kami ke rumah ibu Tika. Setelah perkenalan, kami mencetuskan beberapa pertanyaan untuk ibu Tika. Jawaban ibu Tika membuat kami kagum dan terharu mendengarnya.

CERPEN ISPIRATIF : Deret Tinta Untuk Negeri

Apakah aku bisa banggakan orangtuaku, banggakan negeriku, banggakan bangsaku, banggakan tanah airku, apapun keadaanku?
Aku ingin menjadi anak yang hidup normal seperti sebayaku. Menapaki setiap detik waktu belajarku di sekolah, bergaul dengan teman seusia, banggakan orangtua, berprestasi di usia muda, bahkan saatnya aku mati kapanpun itu aku juga ingin dikenang. Bukan karena kebodohanku, tapi karena prestasiku. Salahkah aku berkeinginan mewujudkan hal itu?
Tapi mengapa aku dilahirkan dengan keterbatasan? Bagaimana aku bisa mewujudkan keinginanku jika keadaanku seperti ini ya Allah?

Namaku Salsabila Adriyani Fatiha, atau yang kerap disapa Bella. Aku bukan lah anak dari seorang direktur bank ternama di kota, bukan pula seorang anak dari pengusaha garment kaya. Ayahku yang hanya seorang guru bantu di salah satu sekolah dasar dekat rumah, bukanlah suatu pekerjaan yang bisa membantu ekonomi keluarga. Sedangkan ibuku hanya seorang buruh cuci. Usiaku genap 14 tahun saat 2 bulan yang lalu. Kehidupanku sehari hari hanyalah membantu ibu menyelesaikan pekerjaan di rumah, juga menempuh pendidikan di salah satu sekolah menengah pertama luar biasa di kotaku.