-
Ini teh yang bikin wanita panjang umur!
Menurut penelitian terbaru, teh chamomile dapat membantu wanita untuk hidup lebih lama. Hal itu karena minuman herbal tersebut bisa menurunkan risiko kematian dini sampai 29 persen..
-
Ungkap 6 khasiat asam Jawa bagi kesehatan!
Asam Jawa adalah buah yang memiliki berbagai kegunaan, baik untuk pengobatan atau pun kuliner. Nama ilmiah dari buah ini adalah Tamarindus indica. Tanaman ini diperkirakan sampai ke Asia sekitar 5.000 tahun yang lalu. Nah, berikut adalah enam khasiat asam Jawa bagi kesehatan tubuh
-
Tomat dan brokoli, duet maut pembunuh sel kanker!
Beberapa penelitian mengungkap efek brokoli untuk mencegah kanker dan tumor. brokoli mengandung sulforaphane yang diketahui bisa melawan sel kanker namun tak merusak sel sehat di sekitarnya. Hal yang sama juga berlaku terhadap lycopene pada tomat.
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Sunday, 14 December 2014
Hal kecil
Jam alarm ku berbunyi
tepat pukul 05.30, aku segera bangun lalu sholat subuh. Karena ini hari aku
sekolah aku bergegas sarapan, mandi lalu segera berpamitan kepada ayah dan
ibuku. Saat menuju ke sekolah, aku melihat ada poster perlombaan menyanyi.
“Sepertinya perlombaan ini
sangat menarik dan mungkin aku bisa membantu ayah dan ibu mencari uang, karena
hadiahnya juga lumayan besar”, kataku dalam hati. Setelah itu aku menuju ke
sekolah.
Aku bertemu temanku saat
di depan gerbang sekolah.
“Hay adi, tahu gak tadi
aku lihat poster perlombaan menyanyi loh. aku mau kamu membantuku untuk latihan
perlombaan, kamu mau gak?” kataku sambil memegang bahu adi.
“Mau saja, tapi untuk apa
kamu ikut lomba menyanyi?”.
“Begini, aku mau membantu
ayah dan ibu mencari uang karena akhir-akhir ini kondisi keuangan keluargaku
sedikit berkurang, jadi aku mau membantu ayah dan ibu.”
“Wah, kamu memang anak
yang baik ya, oke nanti sehabis sekolah kita latihan” kata adi sambil
menunjukan jari jempolnya.
Wednesday, 10 December 2014
Pertemuan Yang Berarti

Pagi
yang terasa biasa, masih tanpa ayam berkokok seperti suasana di desa, enggan
rasanya aku bangun untuk mandi dan bersiap ke kantor, rasa ngantuk masih
melanda karena semenjak kembali dari masjid tadi malam aku tak bisa memejamkan
mata sampai fajar tiba, dan baru bisa terlelap setelah sholat shubuh.
Melihat
Pak I’ing dan yang lainnya yang sudah bersiap akhirnya aku paksakan juga untuk
ke kamar mandi dan bergegas memakai seragam biru hitam, seragam resmi kebangaan
CV. Daya Perkasa Mandiri.
Setelah
meeting pagi yang dipimpin oleh pak Citin salah satu menejer di kantor ini dan
admin membacakan daftar pasangan kru di lapangan aku segera meninggalkan kantor
bersama yang lain menuju warung si mbok yang ada di pinggir terminal sana.
Satu
porsi nasi pecel, sop atau nasi semur, bakwan, dan teh hangat yang harganya
hanya Rp.2.000,- ini lah yang membuat warung si mbok tak pernah sepi dari
pembeli, ditambah satu keistimewaan lagi tentunya, yaitu “boleh ngutang” he he.
Kado Terakhir Untuk Ibu
Pagi
itu begitu syahdu seiring dengan dendang burung berkicau di atas pohon. Semua
orang di kota pagi itu memang terlihat sangat antusias berlalu lalang sekedar
menyapa atau berjalan-jalan dengan kendaraan mereka masing-masing. jalan raya
tampak sedikit basah karena guyuran hujan semalam yang seperti membabi buta.
Itu akan sangat berbahaya bagi para pengendara mobil atau motor yang hendak
berlalu lalang jika tidak berhati-hati. Beberapa murid sekolah tampak tertib
menyeberang dari ujung jalan sembari diatur oleh petugas lalu lintas. Semua
tampak semakin sibuk dan bergejolak ketika jam menunjukkan pukul setengah
delapan kurang lima belas menit. Memang, pada jam-jam seperti itu, aktivitas
memang tampak ramai dan bergelora karena sudah biasanya pada jam segitu para
pelajar, mahasiswa maupun karyawan kantor bergegas untuk berangkat kerja. Hal
ini tentu sangat menguntungkan bagi para penyedia layanan jasa angkot ataupun
becak. Kedua jenis transportasi ini memang sangat digemari oleh masyarakat
karena selain harganya yang murah, angkot dan becak ini sudah menjadi teman
mereka sehari-hari. Yah, begitulah keadaan kota bandung diawal tahun seperti
ini apalagi ini adalah awal tahun 2000 dimana sebagian besar orang menyebutnya
dengan era millennium.
Buta Bukanlah Akhir
Namaku Rina. Umurku
sembilan tahun kelas 4 SD. Aku sekolah di Girls International Junior High
School, sekolah khusus perempuan.
“Bun, Rina berangkat ya!”
Kataku.
“Hati hati.” Bunda
menyahut sambil menyelesaikan mencuci piring terakhir.
Rina berangkat ke sekolah
diantar ayah. Di jalan, ada sebuah truk besar. Pengendara truk itu melamun jadi
tidak sengaja dia menabrak motor ayah.
“Tidak!” Kataku. Ayah
selamat, tapi justru AKU yang tertimpa truk itu.
Aku menyadari pandanganku
gelap. Ambulan datang. Ayah menghubungi bunda tentang keadaanku, lalu bunda
menyusul ke RS Zahmutawakal.
Aku dicek keadaan disitu.
“Dok, bagaimana keadaan
anak saya” tanya bunda.
“Anak anda mengalami
kebutaan,” kata sang dokter agak prihatin sambil memegang sebuah alat
kedokteran.
“Huhuhu” tangis bunda dan
ayah.
“Apa, aku mengalami
kebutaan?” Tanyaku. Aku berlari dengan sedih berdenyut denyut, melepaskan
kaitan infus yang menyangkut ke taman rumah sakit. Aku tertubruk terus karena
tidak bisa melihat jalan.
Bukan Sepatu Sekolah
Rasa
dingin masih meliputi suasana pagi hari. Tetesan embun membasahi bunga-bunga
yang berada tepat di samping rumahku. Rasanya enggan sekali untuk bangun. Ingin
pada waktu pagi itu sebelum aku beranjak dari ranjang tempat tidurku, selimut
yang sudah berada di bawah kakiku ku ambil dan ku betulkan, alias kembali
menyelimuti tubuhku yang kedinginan. Tetapi mengingat hari itu bukanlah hari
libur sekolah, dengan terpaksa aku beranjak dari tempat tidurku dan langsung ku
ambil handuk yang tergantung di pintu kamarku. Setelah itu aku langsung pergi
mandi.
Setelah
beberapa menit di kamar mandi, akupun keluar dan menuju kamar untuk berpakaian
dan bersiap diri untuk pergi ke sekolah. Tetapi, sesuatu terjadi di kamarku
pada saat aku baru membuka pintu kamarku dan menatap jam dinding yang
tergantung di tembok kamarku yang bercatkan warna biru. Aku spontan melihat
arah jarum jam dindingku menunjukan angka 06.57. “hah…!!” kataku kaget sambil
melototkan mata. “waduh gimana nih..? Mana belum pake baju dan lain-lain lagi”
aku panik sendirian di kamar. Karena ibuku sedang ke pasar, aku jadi tidak ada
yang membantu menyiapkan ini itu.
Paket Kurus Murah
Kenalin,
nama gua tugu asmara, biasanya sih dipanggil gengen atau gendut. Udah lama gua
pengen ngurusin badan gua, tapi alhasil berat badan gua, gak pernah mau turun.
Asal kalian tau aja, gua orangnya gak terlalu tinggi. Tinggi gua sekitar 169
lah, tapi berat badan gua sekarang sudah 97 boos, hampir 1 kuintal,
buseeettt..!!
Suatu hari gua ketemu
ibu-ibu, dia bilang ke gua, “itu badan apa karung goni sih, besar banget”.
Gua sih gak marah, cuma
jawab “ini kan meja pimpong bu”.
Terus ibu itu bilang,
“kamu mau kurus gak..?”
“Ya iya lah lah bu, bosan
tau”.
“Mudah dan murah kok, buat
ngilangin lemak kamu, cuma seribu lima ratusan kok, lemak kamu bakal hilang
seketika, Kamu punya duit gak..?” Dia bilang.
Terus gua bilang “ada buk,
tapi gak mungkin lah cuma 1.500 bisa ngilangin lemak”
“Iya serius, sini duit
kamu biar saya beliin”.
“Okee” jawabku
Pelajaran Mengarang
Pak
Wanto memberi tugas kepada kami untuk mengarang dengan tema tamasya di Monas,
Kebun binatang Raguna, Dufan, TMII, Lubang Buaya dan Sea World. Selama sepuluh
menit aku tidak bisa menulis apa-apa. Meski tinggal di Jakarta, aku belum
pernah pergi ke tempat-tempat tersebut. Biaya masuk kesana cukup mahal
sedangkan orangtuaku penghasilannya pas-pasan.
Karena
aku malu bertanya, aku terpaksa mengarangnya asal saja. Aku mulai menulis
tentang Monumen Nasional yang merupakan tempat penyimpanan benda-benda kuno
yang ada di indonesia dari zaman baheula sampai zaman reformasi ini. Di sana
ada fosil binatang purba sampai kopiah Gus Dur yang dipakai saat menjadi
presiden.
Dufan
atau Dunia Fantasi adalah tempat sekolah para penyanyi. Setelah tamat sekolah
di Akademi Fantasi dapat meneruskan di Dufan ini. Di sana para pengunjung dapat
melihat cara bernyanyi yang baik. Sedangkan Taman Mini Indonesia Indah adalah
tempat menyimpan segala sesuatu yang kecil-kecil di Indonesia, seperti bonsai
dan ayam kate.
Surat Hitam Tanpa Arti
Semua pandangan tertuju
pada spidol yang berdecit-decit. Namun, tampaknya Vio sangat gelisah. Surat
hitam baru saja jatuh di atas mejanya. Ia pun dengan curiga melirik ke kanan,
kiri, dan belakang.
“Tidak ada wajah-wajah
yang patut dicurigai.” Gumamnya lirih. Kemudian pandangannya kembali pada
spidol dengan raut wajahnya yang masih penasaran terhadap surat hitam. Entah
dari mana asal, untuk siapa, dan siapa pengirimnya. Tidak begitu jelas.
“Surat? Surat siapa?”
tanyanya dalam hati.
Ia tidak berani menyentuh
surat itu. Ia hanya menatap dengan penuh kecurigaan. Jantungnya berdebar-debar,
keringatnya mulai mengalir, gelisah.
Ketika bel berbunyi,
secepat kilat ia mengemas buku-bukunya ke dalam tas dan membiarkan surat itu
berada di meja.
Bakso atau Rinso
Andi sedang bermain bola
bersama teman-temannya di taman dekat tempat tinggalnya saat Ibunya memanggil.
“Andi, kemari nak. Ibu
perlu bantuan kamu ni..” teriak Ibunya dari teras rumahnya yang tak jauh dari
taman.
“Bentar ah Bu.. Nanggung
ni mainnya..” sahut Andi sambil melempar bola yang digenggamnya, karena ia
bertugas sebagai penjaga gawang.
“Nanggung-nanggung? Gigimu
nanggung. Yakin ni nggak mau. Ntar nggak Ibu bikinin puding baru tau rasa..”
“Iya deh, iya. Andi
bantuin.” potong Andi sebelum Ibunya selesai berbicara, kerena ia sangat suka
dengan puding buatan Ibunya.
Andi pun memilih berhenti
bermain bola dan bergegas menemui Ibunya yang membutuhkan bantuan dirinya.
“kenapa Bu..?” ucap Andi
begitu sampai di teras rumahnya.
“Ibu mau nyuci, tapi
deterjen Ibu habis. Kamu belikan rinso gih di warung Mak Inong. Ini uangnya 10
ribu, jangan lupa kembaliannya. Ntar kamu jajanin lagi kayak kemarin. Kalau
kembaliannya berkurang, Ibu kurangin juga jatah puding kamu.” Jelas Ibunya
panjang lebar.
Andi yang baru bersekolah
di tingkat SD kelas tiga tersebut hanya menjawabnya dengan kata “iya” yang
disertai dengan anggukan lugunya dengan ekspresi wajah cemberutnya. Ia berjalan
pelan meninggalkan Ibunya di teras rumah.
Wednesday, 29 October 2014
Bukan Sepatu Sekolah
Rasa dingin masih meliputi
suasana pagi hari. Tetesan embun membasahi bunga-bunga yang berada tepat di
samping rumahku. Rasanya enggan sekali untuk bangun. Ingin pada waktu pagi itu
sebelum aku beranjak dari ranjang tempat tidurku, selimut yang sudah berada di
bawah kakiku ku ambil dan ku betulkan, alias kembali menyelimuti tubuhku yang
kedinginan. Tetapi mengingat hari itu bukanlah hari libur sekolah, dengan
terpaksa aku beranjak dari tempat tidurku dan langsung ku ambil handuk yang
tergantung di pintu kamarku. Setelah itu aku langsung pergi mandi.
Setelah beberapa menit di
kamar mandi, akupun keluar dan menuju kamar untuk berpakaian dan bersiap diri
untuk pergi ke sekolah. Tetapi, sesuatu terjadi di kamarku pada saat aku baru
membuka pintu kamarku dan menatap jam dinding yang tergantung di tembok kamarku
yang bercatkan warna biru. Aku spontan melihat arah jarum jam dindingku
menunjukan angka 06.57. “hah…!!” kataku kaget sambil melototkan mata. “waduh
gimana nih..? Mana belum pake baju dan lain-lain lagi” aku panik sendirian di
kamar. Karena ibuku sedang ke pasar, aku jadi tidak ada yang membantu
menyiapkan ini itu.
Cinta Datang dan Pergi
Hari itu, adalah hari paling buruk
yang dimiliki lala. Dia menyaksikan orang yang dia suka menembak sahabatnya
sendiri. Dengan hati hancur dia pulang ke rumah, mengunci diri di kamar
seharian. Dia berfikir, haruskah dia merelakan sahabat demi seorang laki laki?
Atau dia harus tetap menahan rasa sakit itu dengan melihat sahabatnya mesra
dengan laki laki yang dia cintai?
Akhirnya setelah 1 tahun
berlalu, dia sudah tidak pernah lagi bertemu dengan rendy, lelaki yang pernah
dia cintai sewaktu kelas 1 sma. Sekarang lala sudah bisa melupakan masa lalu
nya dan dia memulai hidup baru dengan sahabat baru.
Sewaktu kelas 2 sma dia
bertemu dengan robby. Setiap hari robby dan lala selalu beradu mulut sampai
sampai satu kelas terheran heran dengan sikap mereka berdua apalagi dengan
sahabat baru lala, cindy.
Kabut Putih Tahun Baru
27 Desember 2013
Tak terasa sudah mau tahun baru lagi, begitu cepat waktu berlalu.
Tak terasa sudah mau tahun baru lagi, begitu cepat waktu berlalu.
29 Desember 2013
“Kamu yakin untuk mendaki juga? Cuaca akhir tahun ini buruk sekali.” Protes kakak cowokku yang bernama Chaz.
“Kamu yakin untuk mendaki juga? Cuaca akhir tahun ini buruk sekali.” Protes kakak cowokku yang bernama Chaz.
Tapi aku dan 4
temanku (Jazzy, Meggy, Selena dan Caitlin) tetap bersikeras dengan keputusan
kami. “Rencana kami sudah matang Chaz, besok aku tetap pergi ke puncak dan
camping semalam di sana menikmati pergantian tahun. Meskipun cuaca buruk.”
ucapku sambil tersenyum.
Chaz menghela nafas “Aku cuma berpesan, jaga diri kalian baik-baik! Aku khawatir karena kalian 5 orang wanita.” cemas Chaz. “Haha, Sip Bos, so pasti” kataku sambil hormat
Lalu Chaz langsung mengacak-ngacak rambutku. Ya, itu sudah kebiasaan kakakku
Chaz menghela nafas “Aku cuma berpesan, jaga diri kalian baik-baik! Aku khawatir karena kalian 5 orang wanita.” cemas Chaz. “Haha, Sip Bos, so pasti” kataku sambil hormat
Lalu Chaz langsung mengacak-ngacak rambutku. Ya, itu sudah kebiasaan kakakku
First Love (Memori)
Kusandarkan
lenganku pada kusen jendela. Mataku terus menatap hening pada kanvas hitam di
hadapanku. Satu pendar cahaya bintang menyeretku kembali pada masa lalu, yang
tak pernah aku lupakan. Masa lalu yang akan menjadi satu cerita indah dalam
hidupku. Masa lalu seseorang yang pernah berarti dalam hidupku. Masa lalu yang
menjadikanku seorang yang tak pernah mengenal cinta lagi, selain cintanya. Dan
masa lalu itu terus membekas di ingatanku sampai kapanpun, sampai sisa hidupku.
Juli 2003/2004
Namaku
Tia, umurku 12 tahun. Dan aku adalah siswa baru di SMP Permana. Sekolah favorit
di dekat tempat tinggalku. Aku punya dua orang kakak laki-laki, namanya Samy
dan Sandy, ia juga mantan siswa di sekolah tersebut, tapi Sandy masih
bersekolah di Permana. Ia baru kelas tiga. Dulu saat di sekolah dasar, aku tak
punya bayangan bisa masuk di sekolah bergengsi -walaupun tingkat kecamatan-
itu. Kalau saja kakak-kakakku tidak menyarankan aku untuk masuk sekolah itu,
aku mungkin akan jadi siswa di SMP lain. Dan dari situlah aku bertemu dengan
seseorang. Seseorang yang akan mengenalkan aku tentang cinta. Seseoramg yang
akan mengajari apa itu cinta. Dan seseorang yang akan memperlihatkan betapa
besarnya kekuatan cinta.
CERPEN ROMANTIS : Hujan Penghantar Kerinduan
Malam ditemani hujan deras
memilukan hati, di situ Randy terkulai di pojokan kamar menatap kosong jendela
basah yang dihantam hujan. Sesekali guntur menyapa, raut mukanya pucat,
Lesu, lunglai tak bergairah.
Hanya 2 buah lilin kecil dengan cahaya kuning redup yang saat itu menemaninya.
Randy tengah sakit akibat seminggu ini dikejar dengan tugas skripsinya yang
harus segera ia selesaikan, ia kurang tidur, sehingga warna coklat pudar tapak
jelas di bawah mata mungil Randy. Kini ia tak berdaya, hanya bisa berkata juga
mengedipkan kelopak mata sebagai tanda ia masih ada.
Tak terasa hujan begitu indah
mengirimkan pesan kerinduan tentang kekasihnya, Syifa.
Jemari jemari lemah Randy tak
sadar menari nari di atas keypad handphone silvernya, jemari itu menulis nomer
hp kekasihnya, dengan tubuh yang gemetar kedinginan ia menunggu suara muncul
dari hp nya.
“Syifa.. Syifa..” ia melafalkan dengan lidah begitu lemah
disertai getaran tubuh ringkihnya, tapi apa mau dikata tak ada suara yang biasa
ia dengar menyahutinya.
Thursday, 16 October 2014
CERPEN HUMOR : Jepang Oh Jepang
Jepang, kata yang pertama gue tau dari
sebuah negara maju ini adalah Miy*bi :hammer bukan-bukan maksud gue itu
Arigatou. Dulu gue waktu gue di Jepang gue sering denger orang yang ngomong
Arigatou. Apalagi para turis asing sering ngomong arigatou. Mungkin kata ini
adalah kata yang biasa bagi orang lain. Tapi tidak buat gue.
Beda lagi waktu gue lagi di Jerman. Emang gue udah mempersiapkan
semuanya dari rumah. Mulai dari kolor, lipstick, Pakaian, dsb. Dan yang paling
gue wanti-wanti dari rumah, gue udah belajar bahasa Jerman. Maksud gue belajar
bahasa Jerman adalah karena di pikiran gue di jerman itu jarang ada orang
Indonesia. Ya jadi gue harus belajar bahasa Jerman.
Gue udah ngebayangin dari awal, kalo gue
gak bisa bahasa Jerman entar kalo gue kebelet pengen poop terus udah di
ujungnya, gimana? Emang gue bisa cari WC umum terus nanya ke penjaganya “Ada
yang kosong WCnya?” pake bahasa Indonesia, yang pasti penjaganya bakalan
mupeng. Kalo gue pake bahasa Inggris, “Excuse me, Do some toilet free?”
(pokoknya itulah maksudnya.) Mending kalo penjaganya ngerti bahasa Inggris.
Kalo penjaganya enggak ngerti dan dia cuman lulusan MTs? bisa-bisa lele kuning
gue bisa keluar waktu lagi percakapan sama penjaga WCnya.
CERPEN MOTIVASI : UNTUK BU DIAN
Hidup itu memang Luar Biasa. Segala
peristiwa yang bahkan tak pernah aku bayangkan terjadi. Aku pernah membaca
salah satu buku motivasi yang berjudul “The Secret” dalam buku itu dituliskan,
bila kita ingin meraih Impian kita, maka kita harus memikirkannya dan
menjadikannya fokus hidup kita. Pikiran positif akan menarik hal yang positif,
begitulah prinsip yang selalu aku pegang teguh. Dan semua terasa seperti
keajaiban dan menjadi nyata. Apa yang hanya ada dalam benakku, kini menjadi
kenyataan yang tersaji tepat di depan pandangan ku. Contoh nyatanya, seperti
yang terjadi padaku di hari ini.
Hari ini, aku akan mengikuti Lomba Pidato
bahasa jawa. Memang aku tidak terlalu fasih dalam bahasa jawa, modal ku
hanyalah tampil percaya diri dan semangat. Pagi hari ku awali dengan semangat.
Lokasi lomba dengan rumahku tak begitu jauh, jadi aku memutuskan untuk berjalan
kaki saja. Entah kenapa, kali ini langkahku serasa sangat ringan, seperti gak
ada beban, padahal aku mau lomba, Lomba dimulai jam 8 pagi, begitu sampai
tempat, eh kok malah sepi. “Guruku mana ya?” tanya ku kebingungan. Aku malah
jalan-jalan sendiri kayak orang hilang. Ya, sudah aku masuk saja sendiri,
sampai di dalam aku masih kebingungan. Eh… Akhirnya ketemu juga, aku ketemu Bu
Dian guru pendampingku. Bu Dian bilang ke aku, kalau Lomba Pidato langsung
daftar ulang ke lantai 2. Tapi Bu Dian gak bisa nemenin aku, soalnya Bu Dian
panitia lomba. Hahhh, kalau aku sih maklum aja, Bu Dian kan orang sibuk. Ya,
sudah lomba sendiri aja.
Wednesday, 15 October 2014
CERPEN ISPIRATIF : Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)
Kini setelah mendapat pesetujuan dari
keluarga. Ryan sekarang tercatat sebagai salah satu mahasiswa di universitas
negeri terbaik di Jakarta Fakultas Hukum. Sejak dulu Ryan memang sudah
memimpikan untuk bisa menyandang gelar sarjana hukum, sama seperti sahabatnya
Arif yang sekarang juga mengambil jurusan hukum. Bedanya adalah Arif berada di
bawah naungan salah satu Universitas terbaik di Inggris. Meskipun sekarang
mereka terpisah oleh jarak yang cukup jauh, namun intensitas komunikasi mereka
tetap berjalan terus. Maklumlah, kedua orang ini memang sudah begitu dekat
sejak kecil. Namun kali ini mereka harus terpisah sejenak untuk mimpi mereka
masing-masing.
Setiap hari, Ryan menjalani rutinitas
perkuliahan yang begitu padat. Panas Ibukota yang selalu sama dan tak bisa
diajak kompromi itu, serta macetnya jalan tak membuat Ryan untuk mengeluh
mengendarai sepeda motornya menuju kampus. Kali ini dia berangkat berboncengan
dengan salah satu kerabat kelasnya Adit. Anak muda seperti Ryan dan Adit memang
sedang asyik-asyiknya kuliah. Apalagi Ryan terbilang aktif mengikuti kegiatan
dan banyak mengikuti organisasi di kampus. Namun Ryan begitu senang, karena
memang untuk itulah kita hidup, untuk berkarya. Kita masih muda kawan.
CERPEN ISPIRATIF : Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)
Malam begitu gelap. Tak ada pancaran
sinar matahari yang menyinari bumi lagi, tapi jangan khawatir itu hanya terjadi
malam hari saja. Bintang-bintang di langit sudah cukup membantu menerangi bumi
di tambah cahaya lampu di tiap perempatan jalan ibukota.
Jalanan cukup sepi, mungkin karena sudah
larut malam. Tak terlalu banyak hiruk pikuk suara kendaraan yang mengganggu.
Hanya ada beberapa pejalan kaki saja. Langkah Ryan begitu pelan, entah apa yang
ada di benaknya sekarang. Terus berjalan kaki tanpa ada arah tujuan sedari
tadi. Hanya di temani alunan musik favoritnya saja.
“Ryan, Ryan, tunggu!” suara dari belakang tampak memanggil.
Ryan tak menoleh sedikitpun. Mungkin pengaruh terlalu asyik mendengar
alunan musik itu.
“Ryan, Ryan, tunggu!” suara itu kembali terulang namun lebih keras
lagi.
Kali ini Ryan akhirnya menoleh. Melihat dari kejauhan sosok yang
memanggilnya. Kulit sawo matang, tinggi dan terlihat manis mengenakan kaos
oblong itu ternyata teman sewaktu di SMA, namanya Arif.
“Hey rif, kenapa?”
“Mau kemana? Dari tadi siang ibumu menelfon, dikiranya kamu main ke
rumah” kata Arif dengan gaya cemas.
“Oh, itu. Iya aku yang bilang tadi mau ke rumah kamu, tapi itu cuman
akal-akalan saja biar ibu tidak cemas” Ryan menjawab dengan santai.
“Kenapa? Ada masalah apalagi?” tanya Arif penasaran.
Tak ada respon dari Ryan, dia hanya terus berjalan melangkahkan
kakinya entah kemana, tak ada tujuan sama sekali. Arif hanya terus mengikuti
meski kadang terlihat geram melihat tingkah sahabatnya itu.
CERPEN ISPIRATIF : Padamu Wanita Indonesia
Hari ini aku dan kawanku Fadyta
berkunjung ke salah satu desa di Kabupatenku, Kabupaten Banjarawi. Disana kami
telah merencanakan apa yang akan kami lakukan sesuai perintah Pak Fajar Arif,
wali kelasku. Pak Fajar memerintahkan aku dan teman-teman sekelasku untuk
berkunjung ke Desa Kartini di Kabupaten Banjarawi. Disana, kami ditugaskan
untuk mewawancarai seseorang yang kami anggap sebagai wanita yang istimewa di
desa itu. Maklum, kata Pak Fajar disana banyak wanita yang istimewa yang tegar
dan sangat bijaksana.
Oh iya, perkenalkan, namaku Akyas
Az-Zahra, panggil saja aku Zahra atau Kyas. Setelah bertanya kepada beberapa
orang di desa itu, aku dan Dyta akhirnya menemukan seorang wanita yang menurut
warga desa beliau sangat ramah dan bijaksana. Langsung saja aku dan Dyta
menghampiri rumah yang sudah disebutkan ciri-cirinya oleh seorang warga. Tok…
tok… tok… Suara ketukan pintu membuat wanita 43 tahun yang tengah membaca koran
sontak meninggalkan bacaanya dan langsung membuka pintu untuk kami. Setelah
pintu dibuka dan kami dipersilahkan masuk oleh ibu Sartika, atau panggil saja
beliau ibu Tika, kami langsung memperkenalkan diri dan memberi tahu maksud
kedatangan kami ke rumah ibu Tika. Setelah perkenalan, kami mencetuskan
beberapa pertanyaan untuk ibu Tika. Jawaban ibu Tika membuat kami kagum dan
terharu mendengarnya.
CERPEN ISPIRATIF : Deret Tinta Untuk Negeri
Apakah aku bisa banggakan orangtuaku,
banggakan negeriku, banggakan bangsaku, banggakan tanah airku, apapun
keadaanku?
Aku ingin menjadi anak yang hidup normal
seperti sebayaku. Menapaki setiap detik waktu belajarku di sekolah, bergaul
dengan teman seusia, banggakan orangtua, berprestasi di usia muda, bahkan
saatnya aku mati kapanpun itu aku juga ingin dikenang. Bukan karena
kebodohanku, tapi karena prestasiku. Salahkah aku berkeinginan mewujudkan hal
itu?
Tapi mengapa aku dilahirkan dengan
keterbatasan? Bagaimana aku bisa mewujudkan keinginanku jika keadaanku seperti
ini ya Allah?
Namaku Salsabila Adriyani Fatiha, atau
yang kerap disapa Bella. Aku bukan lah anak dari seorang direktur bank ternama
di kota, bukan pula seorang anak dari pengusaha garment kaya. Ayahku yang hanya
seorang guru bantu di salah satu sekolah dasar dekat rumah, bukanlah suatu
pekerjaan yang bisa membantu ekonomi keluarga. Sedangkan ibuku hanya seorang
buruh cuci. Usiaku genap 14 tahun saat 2 bulan yang lalu. Kehidupanku sehari
hari hanyalah membantu ibu menyelesaikan pekerjaan di rumah, juga menempuh
pendidikan di salah satu sekolah menengah pertama luar biasa di kotaku.








